yeni herdiyeni

Taichung dan Keelung, Taiwan

6-12 Desember 2015

Akhir tahun 2015, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri pertemuan SEAIP di Taichung, Taiwan. Ini adalah kali kedua saya menghadiri pertemuan SEAIP di Taiwan. Pertemuan diadakan di NCHC yang berlokasi di Taichung dan di National Museum of Marine Science and Technology. Pada pertemuan tersebut, peserta dari Indonesia berjumlah 5 orang yang sebagian berasal dari UI. Saat itu yang saya presentasikan adalah mengenai “Automated Plant Identification based on Leaf Biometric Characteristic to Support Conservation of Plant Diversity” .

 

Yehliu Geopark

Pada hari ke-4 meeting SEAIP, saya beserta beberapa orang partisipan diberi kesempatan untuk mengunjuni tempat wisata Yehliu Geopark (https://en.wikipedia.org/wiki/Yehliu). Yehliu Geopark merupakan  kawasan batuan kapur yang membentuk suatu gugusan serta bentuk-bentuk unik seperti jamur, kepala ratu, lilin dan lain sebagainya. Batuan ini terbentuk akibat erosi samudra pasifik yang berarus deras. Yehliu sendiri berasal dari bahasa Pinpu, yaitu bahasa asli dari suku “aborigin” nya Taiwan. Selain itu istilah ini juga berasal dari bahasa Spanyol Punto Diablos yang berrarti Tanjung Setan. Dibalik penamaannya, ada suatu cerita mengapa tempat tersebut dinamakan Yehliu. Ceritanya pada zaman dahulu warga sekitar merupakan nelayan yang hidup di laut, mungkin jika di Indonesia seperti orang Bajo. Mereka mendapatkan beras dari penduduk pulau. Uniknya pengambilan beras dilakukan dengan menggunakan bilah bambu yang sudah dilubangi bagian ujungnya, dan para pedagang pada akhirnya menyebut proses ini sebagai “beras yang dicuri oleh suku asing” dimana suku asing dalam bahasa Taiwan disebut “Yeh” dan dicuri disebut “Liu”. Inilah asal muasal dari penamaan kawasan ini (sumber: http://www.kompasiana.com/andi.azhar/yehliu-geopark-kreasi-alam-di-ujung-formosa_5528858d6ea834d1718b4567)

Gold Museum, Jinguashi

Pada hari terakhir meeting SEAIP, kami mengunjungi Gold Museum di Jinguashi. Jinguasi terletak di wilayah Ruifang kota Taipei, Taiwan. Dahulu kala pada saat perang dunia ke II pada masa penjajahan Jepang,  tempat ini merupakan daerah penambangan emas dan tembaga. Didalam ini ada terdapat emas batang dengan berat lebih dari 250rb kg!!

Jioufen Tea House

Setelah mengunjungi Gold Museum, kami pun mengunjungi Jioufen Tea House. Jiufen adalah sebuah pegunungan di wilayah Ruifang, dekat kota Keelung. Setibanya di Jioufen Tea House, kami dijamu dengan minuman teh Oolong hangat. Mantap sekali rasanya! Bahkan kami pun diajari cara menyajikan teh yang benar ;). Tak hanya rasa tehnya yang nikmat, pemandangan disekitarnya sangat indah sekali. Sangat pas untuk menikmati panasnya teh oolong di pegunungan.  I love this place!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s