kuliah · yeni herdiyeni

Fast Track itu sama dengan Fast Food. Tidak Sehat!

Fast track adalah program percepatan studi, dimana seseorang mahasiswa dapat menyeselesaikan program S-1 kurang dari 8 semester dan S-2 kurang dari 4 semester asal sks minimum tercukupi, mahasiswa tetap dapat ijzazah S-1 dan S-2 (Sumber: Panduan Program Beasiswa Unggulan DIKTI). Tujuannya adalah untuk memproduksi sarjana S1 dan S2 lebih cepat. Mahasiswa yang dapat mengambil program ini tentunya harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Saya ingin berbagi fenomena yang muncul dengan adanya program Fast Track ini. Alhamdullilah selama ini mahasiswa bimbingan saya, sebagian besar memiliki prestasi yang cukup baik. Sampai saat ini ada tiga mahasiswa bimbingan saya yang mengambil program Fast Track. Tentu saja mahasiswa tersebut memiliki prestasi akademik yang baik dan tentunya memenuhi syarat. Namun selama proses pembimbingan tugas akhir, saya mengamati beberapa dampak negatif yang muncul akibat program fast track tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam pelaksanaanya, mahasiwa yang mengambil program fast track mengambil mata kuliah S2 pada tahun ke-4 bersamaan dengan dengan pengerjaan tugas akhir. Disinilah muncul pokok permasalahannya. Melakukan riset itu tidaklah sama dengan mengikuti perkuliahan. Melakukan riset memerlukan waktu yang banyak untuk melakukan eksplorasi membaca jurnal, buku, melakukan eskperimen dll. Melakukan riset itu perlu “Passion”. Tidaklah mudah mencerna penelitian orang lain dari jurnal/publikasi. Perlu waktu yang sangat banyak sekali untuk membaca berulang kali makalah/paper yang sedang dipelajari. Saya ingin katakan, membaca paper penelitian itu perlu “dinikmati”…

Selain membaca paper, mahasiswa saya setiap minggu perlu menyampaikan progress risetnya secara rutin. Namun dilain pihak mahasiswa tersebut terbebani juga dengan tugas-tugas perkuliahan S2. Ini tentu saja membuat mahasiswa “STRESS” !! dan pada akhirnya tidak lagi “menikmati” apa yang sedang dipelajari…. Apakah pembelajaran seperti ini baik!!?? tentu saja tidak.!!  

Proses pembelajaran itu harus “dinikmati”, tidak bisa dilakukan dengan “tergesa-gesa”!… Selain itu juga dalam melakukan riset harus banyak membaca literatur lalu mencerna literatur itu dengan baik. Sistem kerja otak itu sama rumitnya dengan sistem kerja pencernaan. Mengunyah makanan saja tidak boleh tergesa-gesa, agar sistem pencernaan dapat mencerna makanan dengan baik dan “TIDAK STRESS” akibat dipaksakan. Demikian pula dengan sistem kerja otak! … Jika prestasi mahasiswa tidak benar-benar “EXCELLENT” maka FAST TRACK sama dengan FAST FOOD. Tidak Sehat!

Nikmati “PROSES PEMBELAJARANNYA”. Jangan tergesa-gesa! Proses yang dilakukan secara paralel itu BELUM TENTU BAIK KOK!!…

Jika saya menjadi mahasiswa lagi, saya akan memilih menyelesaikan tugas akhir saya sebaik dan secepat mungkin , setelah itu baru melanjutkan studi lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s