yeni herdiyeni

Pembelajaran Kontekstual

Ditulis oleh :
Bapak Julio Adisantoso (staf Ilmu Komputer FMIPA IPB)

Di suatu acara seminar pembelajaran multimedia di suatu perguruan tinggi, saya berkesempatan menyimak paparan rekan sesama pemakalah. Beliau menyajikan dua judul presentasi, salah satunya yang akan saya bagi cerita di sini adalah pembelajaran kontekstual yang lebih dikenal dengan istilah Student Center Learning (SCL). Mungkin soal ini sudah banyak dikupas di pelatihan pekerti atau AA, yang sampai kini pun belum pernah saya ikuti.

Rekan tadi menyajikan dengan sangat menarik, diawali dengan kutipan dari Benjamin Franklin yang sarat makna, yaitu: “Tell me and I forget. Teach me and I may remember. Involve me and I will learn”. Dari sini saya merenung, apakah selama ini saya di kelas hanya bercerita yang membuat mahasiswa melupakannya, hanya mengajar yang membuat mahasiswa menghafal, atau lebih membuat mahasiswa untuk belajar sehingga lebih berkembang? Ternyata saya merasakan bahwa banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen yang baik. Apalagi jika dihubungkan dengan penilaian yang biasa dilakukan, apakah hanya menilai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sesuai sasaran kurikulum; ataukah menilai kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu? Sangat berat ternyata untuk melakukan itu semua.

Ternyata selama ini saya masih pada tahap traditional teaching, yang hasilnya membuat mahasiswa D3C (duduk, dengar, diam, catat), memiliki kemampuan konseptualisasi yang terbatas, tahu/hafal materi pelajaran, tetapi tidak tahu aplikasinya di dunia nyata, apatis, dan tidak dapat “think outside the box”. Nah, dalam SCL, demikian rekan saya tadi memberi tekanan, sudahkan kita melakukan proses pembelajaran bercirikan hal-hal berikut: (1) Fokus  pada  proses; (2) Penekanan  pada  mengetahui  “bagaimana”; (3) Dosen  berperan  sebagai  fasilitator,  narasumber,  dan  mitra; (4) Siswa  bekerja  dalam  kelompok/tim, secara kolektif  dan  kolaboratif; (5) Siswa  bekerja  secara  independen; (6) Siswa  aktif  membangun  dan  mensintesa pengetahuan  dari  banyak  sumber; (7) Kegiatan  belajar  fleksibel dan tak selalu di dalam  kelas; dan (8) Penilaian  dengan  berbagai cara. Oleh karena itu, dalam SCL, metode yang harus dilakukan adalah: (1) Pembelajaran dengan berbagi pengalaman (information sharing); (2) Pembelajaran dengan pengalaman (experience based, experiential learning); dan (3) Pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem-solving based).

Memang, tidak semua matakuliah dapat 100% dilakukan pembelajaran seperti itu, namun minimal menjadi tugas saya sebagai dosen untuk membuat pembelajaran lebih berpusat pada mahasiswa, bukan pada dosen. Sulit sekali ternyata, dan saya makin lebih banyak merenung lagi mendengar paparan terakhir rekan saya tersebut, yang berusaha menyimpulkan dalam satu kalimat: “Kampus tempat mahasiswa belajar, BUKAN tempat dosen mengajar”.

One thought on “Pembelajaran Kontekstual

  1. Tulisan ini sangat menarik, dan membuat saya kembali merenung.. “sudah seperti inikah saya mengajar.. ? “.. Thanks pa Julio… bapak banyak memberikan inspirasi buat saya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s