yeni herdiyeni

Professor dan Penjual Sayur

Setiap pagi seorang penjual sayur langganan saya, namanya Pa Sani, rutin mengantarkan sayuran ke rumah saya. Tidak seperti lazimnya membeli sayuran di penjual sayur keliling, berbelanja dengan Bapak Sani ini tidak ada tawar menawar lagi. Pa Sani sudah terkenal sebagai penjual sayur yang jujur dan menjual sayurannya dengan harga yang “memuaskan” pelanggan. Sehingga kami tidak perlu lagi capek-capek untuk menawar harga sayuran. Kami percaya pa Sani jujur. Bukan hanya itu saja, Pa Sani adalah guru terbaik untuk saya karena beliau mengajarkan saya apa-apa saja yang saya butuhkan untuk memasak. Mulai dari memilah sayuran dan ikan sampai dengan cara memasaknya. Bukan main!! Walaupun pa Sani laki-laki, beliau dengan sabar dan pintar bisa menjelaskan dengan baik kepada saya bagaimana cara memasaknya. Secara saya tidak bisa memasak heheh… Sekarang tak perlu lagi bingung untuk masak apa hari ini, pa Sani sudah sangat paham dengan apa yang saya perlukan untuk memasak.

Suatu hari saya mencoba untuk membuat sayur lodeh dengan berbekal resep jitu dari sebuah buku masak yang saya beli. Setelah lebih dari satu jam saya memasak, saya mencicipi hasil karya saya itu.. heheheh… sepertinya bukan sayur lodeh yang saya buat.. tak karuan rasanya. Hmmfff susah juga yah masak itu.

Esok paginya saya ceritakan kejadian tersebut ke pa Sani. Sambil tersenyum ramah, pa Sani bilang “Bu, saya racikkan yah bumbunya sehingga ibu tinggal memasak saja”.. Pa Sani.. pa Sani… Bapak memang guru yang baik. Tanpa perlu menyalahkan saya, bapak sudah membuat tahu apa kesalahan saya.

Bukan hanya mengajarkan kepada saya bagaimana cara memasak, Pa Sani juga mengajarkan kejujuran, kebaikan, dan teknik marketing yang baik. Bayangkan saja, setiap lebaran akan tiba, pa Sani membagikan parsel berupa sekaleng Astor dan sebotol sirop ABC kepada pelanggannya. Luar bisa!! Tak heran jika pelanggan pa Sani semakin bertambah dan pa Sani menjadi terkenal di sekitar perumahan kami.

Suatu ketika pa Sani punya pelanggan yang tidak membayar hutangnya sampai dengan pelanggan itu pindah rumah. Bukannya marah atau jengkel, pa Sani menyikapi pelanggan tersebut dengan mendoakannya dan mengikhlaskan hutangnya. Saya bertanya kepada Beliau,”Bapak ikhlas melakukan itu… ? ” Pa Sani menjawab saya belajar dari Al-Quran yang mengatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujuraat 49:12).

“Begitu bu, jadi saya berprasangka baik saja kepada pelanggan saya itu.. mungkin dia memang sedang kesulitan…” hmmm pa Sani…

Suatu hari, pa Sani bercerita tentang resep makanan barunya. Beliau menceritakan resep hasil temuannya tersebut kepada para pelanggannya dengan suka cita. Dengan gaya promosinya yang khas beliau meyakinkan bahwa resep masakan hasil temuannya itu memiliki cita rasa yang tinggi. Begitu ujarnya… Tak sungkan2 beliau pun menjelaskan kepada kami bagaimana dan apa saja yang diperlukan untuk mencoba memasak resep barunya itu. Luar biasa memang, resep barunya itu kini menjadi salah satu menu masakan saya… 🙂. Keesokan harinya saya bilang ke pa Sani, “Pa, coba bapak patenkan inovasi resep Bapak, trs buat buku masak deh..”. Pa Sani menjawab, “Saya kan cuman penjual sayur bu, bukan orang pinter…, saya sudah senang bu, orang jadi pinter masak” begitu jawabnya sambil tersenyum. Pa Sani… Bapak begitu baik hati dan rendah hati…

Pa Sani…., Bapak adalah guru besar saya, profesor untuk saya, Bapak bisa mengajari saya masak, mengajari saya kejujuran, mengajari saya kebaikan, mengajari saya rendah hati, mengajari saya teknik marketing yang baik sehingga memiliki banyak pelanggan,  mengajari saya berinovasi membuat resep masakan dan berbagi inovasi resep masakan tanpa takut orang lain akan mengambil inovasi bapak…

Oh pa Sani…..andai aku bisa bisa menjadi profesor seperti Bapak ……………………..

13 thoughts on “Professor dan Penjual Sayur

  1. Amin..Emang Sin jadi pa Sani cukup mempublikasikan kebaikannya untuk bisa di kenal orang bukan dengan mempublikasikan diri tanpa memberi manfaat untuk orang lain….

  2. SubhanaAlloh ya Bu, beliau bisa sangat bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya… kapan ya saya bisa begitu…
    Btw, sharing resep masakan baru Bu… jadi pengen coba buat…

  3. Assalamualaikum.
    Pelajaran memang dapat berasal dari mana saja ya Bu, asal kita mau membuka diri terhadap orang lain pasti kita akan dibanjiri ilmu dan saudara. Salam dari kampung
    Wassalamualaikun (Murid Ibu di M.Kom Budi Luhur)

  4. Mampir nih mbak,

    Penjual sayur aja bisa ngasiin astor dan minuman ABC kepada pelanggannya…padahal semestinya terbalik ya…dia yg diberi salut bgt dengan pak Sani…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s