resensi buku

Surah al-Qashash:68 dibalik kisah “Edensor”

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan” (Harun Yahya).

Kalimat itu yang pertama kali kubaca dalam novel “edensor” Andrea Hirata, novel ketiga dari tetralogi laskar pelangi. “Edensor” seolah memberiku selimut hangat dalam keheningan malam yang hampir membuatku “beku” malam ini. Tak kupungkiri jika kejenuhan tengah menghampiriku akhir-akhir ini. Seakan jenuh untuk merangkai setiap elemen itu menjadi sesuatu yang sempurna. Andrea mencoba meyakinkan apa yang disampaikan Harun Yahya melalui kisah hidupnya.

Novel itu lagi-lagi memberiku keyakinan bahwa memang semua yang terjadi sekecil apapun tidak pernah terjadi secara kebetulan. Saat yang bersamaan aku ingat firman Allah yang pernah kubaca dalam sebuah tafsir Al-Mishbah dalam surat al-Qashash (28:68). Allah berfirman “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan“. Dari ayat tersebut Sayyid Quthub (*) menjelaskan bahwa Allah mencipta apa yang Dia kehendaki. Tidak satu pun yang dapat mengusulkan kepada-Nya sesuatu, tidak juga menambah atau mengurangi sesuatu dari ciptaan-Nya, atau mengubah atau menggantinya. Dia-lah yang memilih dari mahkluk ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan siapa yang Dia kehendaki serta untuk apa Dia kehendaki dari pekerjaan, tugas serta kedudukan. Tidak satu pun yang berwenang mengusulkan kepada-Nya seseorang atau satu peristiwa, gerak, ucapan atau pekerjaan. Mereka tidak memiliki pilihan menyangkut diri mereka sendiri, tidak juga menyangkut diri orang lain. Tempat kembali segala persoalan -kecil atau besar- hanyalah Allah semata.

Penjelasan itu mampu membuatku keluar dari “kebekuan”di malam ini. Tidak seharusnya aku marah atas apa yang menimpaku dan yang luput dariku karena bukan aku yang memilihnya tapi yang memilih adalah Allah swt. Yang harus kulakukan adalah menerima apa yang terjadi dengan mencurahkan tenaga, pikiran, dan upaya untuk merangkai elemen-elemen itu menjadi rangkaian yang sempurna dengan ikhlas, hati yang lapang dan penyerahan diri kepada-Nya….

*)Tafsir Al-Mishbah, Volume 10.

4 thoughts on “Surah al-Qashash:68 dibalik kisah “Edensor”

  1. Hi Tara…, sudah pasti Tuhan itu paling cerdas. Makanya seyogyanya kita selalu belajar dari semua kejadian yang terjadi di dunia ini…. Thanks Tara sdh berkenan untuk membaca tulisan yang sangat sederhana ini. Moga bermanfaat yah buat kamu…🙂

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s