Keindahan merupakan sesuatu yang tidak dapat disembunyikan. Setiap orang sudah dikarunia oleh Tuhan untuk bisa menikmati keindahan. Kita tidak perlu lagi berpikir lama atau bertanya kepada orang lain untuk menyatakan keindahan apapun, jika memang sesuatu itu indah adanya. Keindahan bukanlah sesuatu yang harus dibeli, karena setiap orang mampu melihat keindahan…
Sama halnya dengan sebuah foto. Menikmati keindahan foto bukanlah hal yang sulit untuk dipelajari. Semua orang bisa merasakan. Namun, membuat foto yang indah bagi saya bukanlah hal yang mudah…:) Itu sebabnya saya sangat mengagumi orang yang mampu menampilkan sisi keindahan dari sebuah objek pada foto…
Mempelajari fotografi bagi saya bukanlah hal yang mudah. Exposure, Focal Point, Shutter Speed, Aperture, Composition adalah beberapa teknik yang tidak mudah saya pahami… Hmmm… ternyata memiliki sense of art saja belum cukup yah hehehe…
Beberapa rekan saya yang sudah memiliki pengalaman dan hasil karya yang sangat baik mengatakan kepada saya bahwa teknik-teknik tersebut bisa dipahami dengan mempraktekkannya langsung. Yah, sepertinya memang harus seperti itu… Dalam fotografi, pengalaman, ketekunan dan jiwa seni sangat diperlukan untuk menghasilkan gambar yang indah….
Sunset, gunung, pantai, burung, bunga adalah sebagian dari objek yang memang bisa dinikmati keindahannya langsung oleh mata kita. Tak heran mengapa orang banyak berburu objek2 tersebut untuk difoto… Walaupun objeknya sudah begitu indah, tapi kok foto2 saya masih belum seindah aslinya yah hehehe… Padahal ada rekan saya (mas Arief), yang membidik kuburan dan pasar yang menurut saya bukan objek yang indah, oleh dia objek tersebut bisa disulap menjadi foto yang indah… hmmm… apa sebenarnya yang membuatnya menjadi indah…??
Saya jadi berpikir, ternyata dalam fotografi, apapun bisa menjadi indah.. Semua teknik fotografi seperti exposure, focal point, Shutter Speed, Aperture, Composition diaturnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang baik.. Seperti misalnya jika memotret pada kondisi cuaca terang benderang, dan shutter speednya rendah, maka hasil foto akan over exposure, dan sebaliknya jika memotret kondisi kurang cahaya dengan kecepatan tinggi, maka hasil foto akan under exposure. Ini artinya bahwa untuk objek yang sama diperlukan teknik shutter speed yang berbeda, tergantung kepada pencahayaan yang ada pada objek tersebut.
Hmmm…saya jadi membayangkan, jika saja kamera adalah hati/pikiran/IQ manusia, teknik fotografi adalah perilaku/sikap hidup dan fotografer adalah manusianya, maka jika ingin hubungan antar sesama manusia menjadi indah, maka diperlukan teknik berperilaku atau sikap yang tepat/sesuai dengan siapa kita berinteraksi. Jika kesabaran dan pengertian adalah shutter speednya, maka jika ingin membuat segalanya menjadi indah, diperlukan shutter speed yang tinggi jika berhubungan dengan seseorang yang sangat emosional, dan sebaliknya hanya perlu sedikit kesabaran jika berhubungan dengan seseorang yang tidak emosional… begitu kali yah….
Jadi mungkin kalau pada fotografi untuk menghasilkan gambar yang baik, tidak harus dengan kamera yang mahal, tapi yang penting adalah kemampuan dan imajinasi dari fotografernya … Salah satu rekan saya (mas Wayan) bilang the most important is The Man Behind The Gun… dalam fotografi, ga ada kamusnya foto jelek trs menyalahkan objeknya.. hehehhe..
sedangkan kalau pada kehidupan, untk menghasilkan hubungan yang baik tidak harus memiliki IQ yang tinggi, tapi yang paling penting adalah mampu untuk menyesuaikan sikap yang tepat…
Jd harusnya kita juga ga bisa nyalahin orang luar yah klo kita mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan karena The Man Behind The Gun…
Ahh… kok jadi mengkhayal gini yah….. hihihi
Mohon maaf bila kurang berkenan…….