Archive for the yeni herdiyeni Category

I’m nothing without you …

Posted in yeni herdiyeni on November 12, 2009 by Yeni

“I’m nothing without you

Without you i lack what it takes
Unless we’re combined
I have half a mind
To blow all my chances and breaks

It’s time to stop quaking
Start taking the lead

I’m nothing without you
Without you i’m nothing…”

Ini adalah sebuah cuplikan syair lagu. Kalimat ini sudah pernah kita dengar.
I’m nothing without u sebuah ungkapan tulus dari seseorang kepada orang lain. Jika kita cermati lebih dalam lagi kalimat ini begitu bermakna.

Pertama, ungkapan ini sudah seharusnya kita sampaikan kepada Tuhan, karena memang Dia lah yang menggerakkan semuanya. Tanpa seijinNya tidaklah mungkin terjadi. Kedua, ungkapan ini pun seharusnya kita sampaikan juga kepada orang tua, teman, rekan sejawat, atau bahkan orang yang lebih muda dari kita. Coba perhatikan, apakah seorang dosen akan bisa mengajar tanpa adanya mahasiswa?, apakah kita bisa makan nasi tanpa ada seorang yang menanam padi?, apakah kita bisa sekolah tanpa biaya orang tua?, atau apakah bisa kita bekerja tanpa rekan kerja yang lain? Hampir semua yang kita kerjakan dan nikmati itu tidaklah pernah lepas dari orang lain… Jika demikian, pantaskah jika kita merasa sombong? Pantaskah jika kita merasa paling berjasa? Atau pantaskah kita merasa paling benar?

I’m nothing without you … Without you i lack what it takes

I have half a mind …To blow all my chances and breaks.

I’m nothing without you adalah sebuah ungkapan yang dalam yang bisa menjadikan seseorang menjadi rendah hati.

I’m nothing without you adalah sebuah penghargaan kepada orang lain atas apa yang telah kita capai

I’m nothing without you adalah sebuah penyerahan diri pada Tuhan …….

Pembelajaran Kontekstual

Posted in yeni herdiyeni on October 29, 2009 by Yeni

Ditulis oleh :
Bapak Julio Adisantoso (staf Ilmu Komputer FMIPA IPB)

Di suatu acara seminar pembelajaran multimedia di suatu perguruan tinggi, saya berkesempatan menyimak paparan rekan sesama pemakalah. Beliau menyajikan dua judul presentasi, salah satunya yang akan saya bagi cerita di sini adalah pembelajaran kontekstual yang lebih dikenal dengan istilah Student Center Learning (SCL). Mungkin soal ini sudah banyak dikupas di pelatihan pekerti atau AA, yang sampai kini pun belum pernah saya ikuti.

Rekan tadi menyajikan dengan sangat menarik, diawali dengan kutipan dari Benjamin Franklin yang sarat makna, yaitu: “Tell me and I forget. Teach me and I may remember. Involve me and I will learn”. Dari sini saya merenung, apakah selama ini saya di kelas hanya bercerita yang membuat mahasiswa melupakannya, hanya mengajar yang membuat mahasiswa menghafal, atau lebih membuat mahasiswa untuk belajar sehingga lebih berkembang? Ternyata saya merasakan bahwa banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen yang baik. Apalagi jika dihubungkan dengan penilaian yang biasa dilakukan, apakah hanya menilai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sesuai sasaran kurikulum; ataukah menilai kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu? Sangat berat ternyata untuk melakukan itu semua.

Ternyata selama ini saya masih pada tahap traditional teaching, yang hasilnya membuat mahasiswa D3C (duduk, dengar, diam, catat), memiliki kemampuan konseptualisasi yang terbatas, tahu/hafal materi pelajaran, tetapi tidak tahu aplikasinya di dunia nyata, apatis, dan tidak dapat “think outside the box”. Nah, dalam SCL, demikian rekan saya tadi memberi tekanan, sudahkan kita melakukan proses pembelajaran bercirikan hal-hal berikut: (1) Fokus  pada  proses; (2) Penekanan  pada  mengetahui  “bagaimana”; (3) Dosen  berperan  sebagai  fasilitator,  narasumber,  dan  mitra; (4) Siswa  bekerja  dalam  kelompok/tim, secara kolektif  dan  kolaboratif; (5) Siswa  bekerja  secara  independen; (6) Siswa  aktif  membangun  dan  mensintesa pengetahuan  dari  banyak  sumber; (7) Kegiatan  belajar  fleksibel dan tak selalu di dalam  kelas; dan (8) Penilaian  dengan  berbagai cara. Oleh karena itu, dalam SCL, metode yang harus dilakukan adalah: (1) Pembelajaran dengan berbagi pengalaman (information sharing); (2) Pembelajaran dengan pengalaman (experience based, experiential learning); dan (3) Pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem-solving based).

Memang, tidak semua matakuliah dapat 100% dilakukan pembelajaran seperti itu, namun minimal menjadi tugas saya sebagai dosen untuk membuat pembelajaran lebih berpusat pada mahasiswa, bukan pada dosen. Sulit sekali ternyata, dan saya makin lebih banyak merenung lagi mendengar paparan terakhir rekan saya tersebut, yang berusaha menyimpulkan dalam satu kalimat: “Kampus tempat mahasiswa belajar, BUKAN tempat dosen mengajar”.

Think Globally, Act Locally

Posted in yeni herdiyeni on October 29, 2009 by Yeni

Think globally, act locally.. istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para pemerhati lingkungan hidup pada tahun 60-an. Dalam konteks tersebut tersebut, berpikir global mengandung makna bahwa ketika kita membuat polusi seyogyanya berpikir bahwa polusi tersebut akan merusak bumi. Tapi kita tidak perlu memaksa negara besar untuk menghentikan polusinya, kita bisa mulai mengurangi polusi dari lingkungan kita sendiri. Ini makna dari act locally.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca ada seorang president perusahaan aplikasi bisnis yang bernama Tom Ford. Dia menjelaskan bagaimana filosofi dia ketika mendirikan perusahaan di China dan menjual produknya dipasar Asia. Menurutnya yang perlu dipikirkan pertama adalah
- Bagaimana mendesain aplikasi yang tepat yang sesuai dengan budaya pengguna aplikasi di Asia?
- Bagaimana kebiasaan di Asia dan apa-apa saja yang disukai atau diperlukan oleh pengguna aplikasi di Asia?
Pemikirian hal seperti ini menurutnya akan sangat membantu dalam mendesain produk aplikasi. Bukan semata-mata menjual produk aplikasi yang ada di negara Amerika, melakukan impor produk dari sana dan memaksakan pengguna untuk mengikuti panduan yang sudah digunakan di negara tersebut. Tapi yang dilakukan adalah mencari bentuk dan desain yang tepat sesuai dengan budaya dan kepribadian orang Asia. Pelajari apa yang diperlukan oleh pengguna setempat setelah itu mencari cara yang tepat untuk memproduksi aplikasi sesuai dengan yang mereka butuhkan. Tidak dengan memaksakan pengguna setempat untuk melakukan adaptasi terhadap produk yang didesain.

Mereka tidak mengatakan “here’s the way we do things, do it the way we do in New Jersey,”

Tetapi mereka bertanya “what is the most effective way of doing business in your business environment?”

Dari bacaan tersebut saya mendapat pelajaran bahwa …

“Having a global perspective enables us to learn from people all over the world. But narrowing it down to the local is essential in making a business grow…”

“Broaden your vision, yet narrow your focus… ” (mas Wayan, 2009)… Thanks mas quotenya.. :)

Think Globally, Act Locally makes us Thinks Outside the Box

Moga bermanfaat.

Menyikapi dengan sikap terbaik

Posted in yeni herdiyeni on August 9, 2009 by Yeni

Sabtu kemarin menjadi sabtu yang heboh di lingkungan tempat tinggal saya. Setelah tersiar berita bahwa pelaku bom di JW mariot adalah salah seorang warga ditempat tinggal kami. Sontak saja hari itu para wartawan dan pihak kepolisian mendatangi tempat kami. Sangat disayangkan memang hal itu bisa terjadi di lingkungan kami. Melihat kejadian tersebut, banyak hal menarik yang saya amati dari respon warga dan para wartawan. Setelah kejadian tersebut, kemudian muncul prasangka-prasangka kepada pihak tertentu. Bahkan ada pula yang menyikapinya secara keras dengan melarang kelompok tertentu untuk tinggal di lingkungan kami… hmmmmm……. haruskah sampai bersikap seperti itu..???

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Qs.al Hujurat : 6)

Ayat diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan sosial sekaligus ia merupakan tuntunan logis bagi penerimaan dan pengalaman suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan hal-hal yang diketahui dan jelas. Manusia sendiri tidak dapat menjangkau seluruh informasi, karena itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga menyampaikan hal yang benar, ada pula yang sebaliknya. Karena itu pula berita harus disaring, khawatir jangan sampai seseorang melangkah tidak jelas atau dalam bahasa ayat diatas bijahalah. Dengan kata lain ayat ini menuntut kita untuk menjadikan langkah kita berdasarkan pengetahuan sebagai lawan dari jahalah yang berarti kebodohan, disamping melakukan berdasarkan pertimbangan logis dan nilai-nilai yang ditetapkan Allah SWT, sebagai lawan dari makna kedua dari jahalah.

Senada dengan ayat diatas Allah Subhanahuwataala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesungguhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta jangan sebagian orang kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging sudaranya yang sudah mati? Maka kamu telah jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (al-Hujurat 12).

Ayat diatas menegaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa yakni dugaan yang tidak mendasar. Biasanya dugaan yang tidak berdasar dan mengakibatkan dosa adalah dugaan buruk terhadap pihak lain. Ini berarti ayat diatas melarang melakukan dugaan buruk yang tanpa dasar, karena dapat menjerumuskan seseorang kedalam dosa. Dengan meghindari dugaan dan prasangka buruk, kita akan hidup tenang dan tentran serta produktif, karena tidak akan ragu terhadap pihak lain dan juga tidak akan menyalurkan energinya untuk hal-hal yang sia-sia.

Tuntunan ini membentengi setiap kita dari tuntutan terhadap hal-hal baru yang bersifat prasangka. Dengan demikian ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa tersangka belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kebenaran dugaan yang dihadapkan kepadanya. Memang bisikan-bisikan yang terlintas didalam benak tentang sesuatu dapat ditoleransi, asal bisikan tersebut tidak ditingkatkan menjadi dugaan dan prasangka buruk..

Wa’alahu Alam………

Sumber :

Shihab, M. Quraish., Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 13. 2003.

Ketidakpastian….

Posted in yeni herdiyeni with tags , on August 1, 2009 by Yeni

Logika Fuzzy adalah teknik penalaran ketidakpastian. Dalam ilmu komputer Logika Fuzzy digunakan untuk menangani masalah ketidakpastian. Prof Lotfi Zadeh pada tahun 1965 adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori Fuzzy. Didalam teori fuzzy, kebenaran tidak lagi bersifat absolute 0 atau 1. Namun kebenaran dinyatakan dalam bentuk himpunan nilai dari fungsi keanggotaan (membership function) dengan nilai berada pada interval 0 dan 1. Sebagai contoh jika X menyatakan usia, apakah usia 45 (x=45) dinyatakan tua atau muda..??

Dalam logika fuzzy, dengan menggunakan fungsi keanggotaan tertentu, maka usia X dapat dinyatakan dalam bentuk himpunan fuzzy misalnya (Tua = 0.75; Muda = 0.2). Jika diasumsikan Tua atau Muda adalah sebuah keputusan, maka ini artinya bahwa dalam logika fuzzy, setiap pengambilan keputusan selalu memperhatikan berapa besar kepentingan nilai lainnya, dalam hal ini dinyatakan dengan nilai keanggotaan Tua dan Muda. Sehingga dalam logika fuzzy, keputusan selalu dinyatakan dalam bentuk sebuah himpunan nilai. Tidak seperti logika boolean yang keputusannya selalu bernilai 0 (nol) atau 1 (satu). Inilah yang menyebabkan mengapa logika fuzzy mampu memberikan penalaran yang lebih baik dibanding logika boolean. Dengan kemampuan penalarannya yang baik itulah sudah banyak teknologi yang dibangun dengan menggunakan logika fuzzy.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita temui kondisi ketidakpastian.Usia tua atau muda adalah sesuatu yang tidak dapat dinyatakan dengan pasti usia berapa yang memisahkan usia tua dan muda. Lain halnya dengan jenis kelamin Laki-laki atau Perempuan yang sudah pasti (absolute), Demikian juga dengan kondisi suhu panas, dingin atau normal. Tidak ada batas suhu yang ablosute untuk membedakan perbedaan suhu tersebut. Kematian adalah sesuatu yang tidak pasti kapan akan tiba. Demikian pula dengan pekerjaan, rezeki, jodoh dll.

Jika demikian adanya, apakah ketidakpastian itu adalah sesuatu yang harus disesali…???

Jika kita melihat hasil dari penalaran fuzzy maka ketidakpastian bukanlah sesuatu yang memperburuk kondisi. Dengan teori fuzzy, ketidakpastian bahkan memberikan hasil penalaran yang lebih baik dari pada teori boolean yang sudah absolute.

Adakah hikmah penting dari teori fuzzy tersebut yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup..?

Logika Fuzzy, dengan segala teorinya mengenai ketidakpastian, telah dapat dibuktikan memberikan hasil penelaran yang lebih baik daripada logika boolean yang bersifat absolute.

Ini artinya bahwa ketidakpastian bukanlah sesuatu yang perlu disesali atau dihindarii.Ketidakpastian seyogyanya membuat kita untuk selalu berpikir memperhatikan kepentingan kondisi lainya. Sehingga keputusan yang diambilpun merupakan keputusan terbaik. Ketidakpastian juga akan mendorong manusia untuk selalu bergantung dan berdoa pada Allah. Dengan demikian insha allah keputusan yang diambil pun adalah juga keputusan Allah.. :)

Logika fuzzy mengingatkanku bahwa tidak ada kejadian sekecil apa pun yang sia-sia … demikian pula dengan ketidakpastian….

Wallah hualam ……

The Man Behind The Gun – Fotografi Kehidupan

Posted in yeni herdiyeni with tags , , on July 27, 2009 by Yeni

Keindahan merupakan sesuatu yang tidak dapat disembunyikan. Setiap orang sudah dikarunia oleh Tuhan untuk bisa menikmati keindahan. Kita tidak perlu lagi berpikir lama atau bertanya kepada orang lain untuk menyatakan keindahan apapun, jika memang sesuatu itu indah adanya. Keindahan bukanlah sesuatu yang harus dibeli, karena setiap orang mampu melihat keindahan…

Sama halnya dengan sebuah foto. Menikmati keindahan foto bukanlah hal yang sulit untuk dipelajari. Semua orang bisa merasakan. Namun, membuat foto yang indah bagi saya bukanlah hal yang mudah…:) Itu sebabnya saya sangat mengagumi orang yang mampu menampilkan sisi keindahan dari sebuah objek pada foto…

Mempelajari fotografi bagi saya bukanlah hal yang mudah. Exposure, Focal Point, Shutter Speed, Aperture, Composition adalah beberapa teknik yang tidak mudah saya pahami… Hmmm… ternyata memiliki sense of art saja belum cukup yah hehehe…

Beberapa rekan saya yang sudah memiliki pengalaman dan hasil karya yang sangat baik mengatakan kepada saya bahwa teknik-teknik tersebut bisa dipahami dengan mempraktekkannya langsung. Yah, sepertinya memang harus seperti itu… Dalam fotografi, pengalaman, ketekunan dan jiwa seni sangat diperlukan untuk menghasilkan gambar yang indah….

Sunset, gunung, pantai, burung, bunga adalah sebagian dari objek yang memang bisa dinikmati keindahannya langsung oleh mata kita. Tak heran mengapa orang banyak berburu objek2 tersebut untuk difoto… Walaupun objeknya sudah begitu indah, tapi kok foto2 saya masih belum seindah aslinya yah hehehe… Padahal ada rekan saya (mas Arief), yang membidik kuburan dan pasar yang menurut saya bukan objek yang indah, oleh dia objek tersebut bisa disulap menjadi foto yang indah… hmmm… apa sebenarnya yang membuatnya menjadi indah…??

Saya jadi berpikir, ternyata dalam fotografi, apapun bisa menjadi indah.. Semua teknik fotografi seperti exposure, focal point, Shutter Speed, Aperture, Composition diaturnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang baik.. Seperti misalnya jika memotret pada kondisi cuaca terang benderang, dan shutter speednya rendah, maka hasil foto akan over exposure, dan sebaliknya jika memotret kondisi kurang cahaya dengan kecepatan tinggi, maka hasil foto akan under exposure. Ini artinya bahwa untuk objek yang sama diperlukan teknik shutter speed yang berbeda, tergantung kepada pencahayaan yang ada pada objek tersebut.

Hmmm…saya jadi membayangkan, jika saja kamera adalah hati/pikiran/IQ manusia, teknik fotografi adalah perilaku/sikap hidup dan fotografer adalah manusianya, maka jika ingin hubungan antar sesama manusia menjadi indah, maka diperlukan teknik berperilaku atau sikap yang tepat/sesuai dengan siapa kita berinteraksi. Jika kesabaran dan pengertian adalah shutter speednya, maka jika ingin membuat segalanya menjadi indah, diperlukan shutter speed yang tinggi jika berhubungan dengan seseorang yang sangat emosional, dan sebaliknya hanya perlu sedikit kesabaran jika berhubungan dengan seseorang yang tidak emosional… begitu kali yah…. ;)

Jadi mungkin kalau pada fotografi untuk menghasilkan gambar yang baik, tidak harus dengan kamera yang mahal, tapi yang penting adalah kemampuan dan imajinasi dari fotografernya … Salah satu rekan saya (mas Wayan) bilang the most important is The Man Behind The Gun… dalam fotografi, ga ada kamusnya foto jelek trs menyalahkan objeknya.. hehehhe..
sedangkan kalau pada kehidupan, untk menghasilkan hubungan yang baik tidak harus memiliki IQ yang tinggi, tapi yang paling penting adalah mampu untuk menyesuaikan sikap yang tepat… :)

Jd harusnya kita juga ga bisa nyalahin orang luar yah klo kita mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan karena The Man Behind The Gun… ;)

Ahh… kok jadi mengkhayal gini yah….. hihihi

Mohon maaf bila kurang berkenan…….

Words are just words and without heart they have no meaning

Posted in yeni herdiyeni with tags on July 25, 2009 by Yeni

“Saya XX, mahasiswa ibu. Mau nanya, jam berapa yah ibu bisa menemui saya..”
“Bukan gitu pa caranya….. “
“Kalau laporannya sudah diperiksa, mohon dititip di sekretariat saja bu, nanti saya ambil….”

Itulah beberapa dari kalimat yang pernah saya dengar, baik melalui lisan, sms atau email. Coba bandingkan dengan kalimat dibawah ini:

“Saya XX. mahasiswa Ibu. Mohon informasi bu, jam berapa saya bisa menemui ibu..”
“Begini pa yang saya maksud…”
“Ibu, mohon informasi apakah laporannya sudah bisa saya ambil..”

Kita bisa lihat kalimat itu memiliki makna yang sama bukan..?? Tapi rasanya seperti berbeda yah… hehehe..mungkin itulah yang disebut dengan magic words… ;) atau ada pepatah yang mengatakah “Words are just words and without heart they have no meaning…”..

Disadari atau tidak apa yang kita ucapkan atau apa yang kita tulis, memiliki pengaruh yang sangat besar sekali terhadap apa yang kita ingin sampaikan…. Boleh jadi apa yang ingin kita sampaikan keorang lain, tidak diterima atau diabaikan hanya karena cara kita menyampaikannya. Padahal pastinya semua orang menginginkan apa yang disampaikannya bisa diterima oleh orang lain…:)

Jadi sebenernya apa siy yang harus kita perhatikan saat kita ingin supaya orang lain mendengarkan atau menerima apa yang kita sampaikan…??. Berdasarkan buku “primbon” komunikasi yang pernah saya baca hehe…, ada beberapa hal katanya yang perlu kita perhatikan pada saat berkomunikasi.

1. Use ‘I’ messages. Pemilihan kata memegang peranan penting dalam komunikasi.Contohnya : “Kamu tidak jelas menerangkannya…”, akan lebih baik jika menggunakankan kalimat “Saya tidak mengerti apa yang kamu jelaskan, mohon dijelaskan lagi.. sama juga dengan kalimat “Ibu menemui saya…” akan lebih baik jika kalimatnya menjadi “Saya menemui Ibu… “

2. Look for compromise. Ketika ada perbedaan pandangan, jangan bersikap “defensive”, tapi sampaikanlah dulu persaamaan pandangan yang ada.

3. Listen Carrefully. Jika orang lain mengkritik kita, maka yang harus dilakukan pertama kali adalah mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Jangan melakukan interupsi. Bersikaplah tenang dan berusaha mencoba untuk mencari apa yang benar dari kritik yang dia berikan.

4. Pada saat berbicara, ulangi lagi beberapa kata penting yang dia sampaikan, untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan baik.

5. Usahakan untuk bersikap “bersahabat” sekalipun dia bikin bete..hehee…

Mohon maaf bila kurang berkenan….. :)

Binatang saja melakukan konsensus..

Posted in yeni herdiyeni on July 23, 2009 by Yeni

Di sekolah, di kuliah, di tempat kerja, di organisasi atau dimana saja kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain, itulah sebabnya mengapa kita disebut makhluk sosial, karena memang kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.… Itu artinya, bahwa kita hidup dalam sebuah kelompok/group. Namun dilain pihak tidak jarang pula kita menemui seorang yang membuat keputusan sendiri tanpa memperdulikan orang lain…?? Puaskah anda ketika harus menerima keputusan tersebut..???

Marilah kita belajar bagaimana alam mengajari manusia membuat keputusan…

Sudah banyak dibuktikan oleh beberapa penelitian bahwa alam sesungguhnya memberi kita pelajaran. Semut memberikan pelajaran bagaimana menentukan jalur terpendek melalui algoritme semut (ant algorithm) atau swarm algorithm. Ikan hiu menginspirasi bagaimana membuat kapal laut. Proses genetika menginspirasi bagaimana memiliki populasi terbaik melalui algoritme genetikanya. Mekanisme kerja sel darah putih melawan bakteripun menginspirasi munculnya immune algorithm…Dan masih banyak algoritme lainnya.. Segala puji bagi Allah…

Mari kita coba mempelajari hal lainnya..

Cobalah kita perhatikan mengapa burung pada saat terbang bersamaan/berkelompok menuju kesatu arah…?? perhatikan mengapa semut melalui jalur yang sama untuk menuju sumber makanannya…? Bagaimana lebah menentukan sarang  untuk tempat hidup barunya..?? atau perhatikan mengapa ikan didalam air laut berbondong-bondong berenang menuju arah yang sama….?? Apakah ada salah satu dari anggota hewan tersebut yang memerintahkan untuk menuju ke salah satu arah…??? atau apakah ratu lebah yang menentukan dimana harus dibuat sarang yang baru…?? Jawabannya adalah tidak! Ini didasarkan pada beberapa hasil penelitian [1,2]

Berikut penjelasan singkat dari perilaku hewan tersebut:

Lebah/Semut

Lebah/semut harus membuat keputusan untuk menentukan dimana sarang terbaik harus dibuat untuk tempat hidupnya. Pada kasus ini, lebah atau semut akan mengutus beberapa lebah dengan jumlah tidak lebih dari 5% dari jumlah koloni (scouts) untuk melakukan eksplorasi tempat. Setiap lebah/semut yang diutus tersebut akan mengeksplore satu atau dua tempat dan kemudian saling berkomunikasi satu sama lain. Setelah itu lebah2/semut tersebut akan mengepak2kan sayapnya atau “menari” untuk meyakinkan lebah lainnya untuk mengunjungi tempat yang dieksplorasinya. Ketika sejumlah lebah itu (scouts) menyetujui salah satu tempat, maka baru koloni akan berpindah ke tempat yang baru tersebut.

Dalam pemilihan lokasi sarang baru diatas, tidak ada sama sekali melibatkan kepentingan salah satu individu. komunikasi hanya dilakukan oleh beberapa individu saja. Oleh para peneliti kemudia dikelompokkan kedalam keputusan “No conflict of interest, local communication”

Burung

Mengapa segerombolan burung terbang menuju arah yang sama..? Sebuah hasil penelitian menuliskan bahwa setiap burung sebenarnya setiap burung diberi kebebasan untuk terbang kearah mana saja, dan setiap burung diberi preference untuk berdekatan dengan burung lainnya. Preference itu memiliki bobot. Berdasarkan bobot itulah kemudian burung terbang menuju arah yang sama…

Analogi yang sama terjadi ketika segerombolan anak kecil jalan2 ke mall. Jika salah satu dari mereka ingin mengunjungi tempat yang berbeda, namun ternyata teman lainnya tidak mau, maka anak itupun pada akhirnya tetap akan bersama temannya… J

Dalam kasus ini telah terjadi adanya kepentingan yang berbeda, walaupun kecil. Komunikasi dilakukan secara global atau lokal tergantung ukuran dari koloni. Oleh para peneliti keduain dikelompokkan kedalam keputusan “Little conflict of interest, global or local communication”

Bagaimana jika keputusan tersebut melibatkan kepentingan setiap individu (larger conflict of interest..) ??  kita mengenal mekanisme voting. Apakah alam pun mengajari voting..???  Kita lanjutin lagi yah di tulisan selanjutnya… J

Pelajaran penting yang kita bisa ambil adalah, dalam kondisi apapun, alam telah mengajari kepada kita bagaimana melibatkan orang lain dalam mengambil keputusan… :) tapi jangan lupa juga untuk melibatkan Tuhan dalam menentukan keputusan, krn hanya karena Tuhan pulalah binatang2 tersebut ada dalam keteraturan… :)

Moga bermanfaat

Sumber:

  1. Conradt, L & Roper T.J. Concencus decision making in animals. Trends in Ecology and Evolution. Vol 20 No 8 Agustus 2005
  2. Britton, N.F et al. Deciding on a new home: how do honeybees agree?. The Royal Society. Januari 2002.

Fotografi, hobi baru

Posted in yeni herdiyeni on July 7, 2009 by Yeni

Berawal sebagai penikmat dan pengagum hasil fotografi temen2 dan orang lain, akhirnya saya “jatuh cinta” juga dengan fotografi… ;) . Apalagi setelah berlangganan National Geograhic, keinginan saya untuk menekuni fotografi semakin menjadi.. Akhirnya Alhamdullilah kesampaian juga bisa belajar fotografi.. :)

Beberapa hasil jepretan belajar saya simpan di http://www.flickr.com/photos/yeniherdiyeni/

Ditengah kepenatan saya menyelesaikan studi, ternyata hobi yang satu ini bisa menghilangkan kepenatan itu..

Ada yang lucu ketika aku mencoba kamera SLR dengan memotret keponakan saya yang berumur 4th. Dia sempet ngomel2 “Lama amat siy Motonya… udah pegel niy..!!” begitu ujarnya, ketika saya masih ribet dengan settingan shutter speed dan aperture hehehe…. settingan yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya…hihi

Thanks buat “seseorang” yang anter beli kamera .. :) maybe without u, this never happend to me..  :) thanks 4 all..

Ku tertegun sesaat musibah itu datang….

Posted in yeni herdiyeni on June 11, 2009 by Yeni

Siang tadi tepat jam 11 aku menuju kampus Darmaga. Aku harus menjadi penguji sidang mahasiswa S1. Ketika mobilku melintas kantin Katineung, terlintas begitu saja keinginan untuk mengisi perut yang sudah “bersuara” karena tadi pagi tidak sempat sarapan. Maka aku pun mencari tempat parkir yang agak teduh untuk memarkirkan mobilku.. Saat aku memundurkan kendaraan untuk parkir, ternyata ban belakang sebelah kiri mobilku sudah terperosok kebawah dan nyaris saja mobilku terjatuh kedalam selokan dengan kedalaman lebih kurang 1,5 meter…. :(

Alhamdullilah aku masih sempat mengangkat rem tangan kuat2 sehingga mobilku tidak masuk kedalam selokan itu. Mobilku dalam kondisi miring dengan ban kanan belakang terangkat sedikit… Aku keluar dari mobil dan tertegun lemas melihat mobilku yang sudah dalam kondisi miring tersebut. Seketika saja orang2 yang sedang makan siang di kantin Katineung dan penduduk setempat berhamburan mendekati mobilku…

Alhamdullilah ya Allah, Engkau masih beri aku kemudahan dengan adanya bantuan dari orang2 yang ada disana. Si Ibu kantin Katineung dengan sigapnya mencari bantuan truk untuk membantu menganggkat mobilku dan mencari balok kayu untuk menahan mobil agar tidak semakin miring.. Alhamdullilah ya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama ada mobil truk besar dan akhirnya mobilku terangkat keluar…. Alhamdullilah ya Rabbi… Hanya karena Engkaulah hamba dimudahkan dalam musibah itu…….

Sesampainya di kantor, ku segerakan sholat Dzuhur dan kuakhiri dengan sujud syukur pada-Mu ya Allah…. Terima kasih Allah….