Archive for ‘Kesehatan’

April 27, 2012

MedLeaf : Aplikasi Mobile Tumbuhan Obat Indonesia

  

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil (Wahyono dan Shalahuddin, 2011). Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebih dari 38.000 spesies (Bappenas 2003). Pada tahun 2002, tercatat bahwa di Indonesia terdapat spesies tumbuhan obat sebanyak 22.500 dan jumlah spesies yang sudah digunakan sebagai tumbuhan obat sebanyak 1.000 spesies (Groombridge dan Jenkins, 2002). Ini berarti jumlah persentasi tumbuhan obat yang sudah dimanfaatkan sedikit sekali yaitu hanya sebesar 4.4 persen dari sumberdaya tumbuhan obat yang tersedia. Apa penyebabnya? Salah satunya penyebabnya adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan obat. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka lambat laun tumbuhan obat ini akan punah.

Berdasarkan permasalahan ini, kami dari Lab keilmuan Kecerdasan Komputasional Departemen Ilmu Komputer IPB (Dr. Yeni Herdiyeni dan Ir. Julio Adisantoso, M.Komp) bersama dengan staf pengajar dari Departemen KSHE Fahutan IPB (Prof. Evrizal Amzu dan Ellyn K. Damayanti, Ph.D Agr), sejak dua tahun yang lalu mencoba melakukan penelitian bersama dengan mahasiswa untuk mengembangkan sebuah teknologi tepat guna yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mencari informasi dan membantu melakukan identifikasi tumbuhan obat. Aplikasi ini dibangun dengan menggunakan teknologi Computer Vision dan Search Engine. Selain mengembangkan aplikasi berbasis web, kami juga melakukan penelitian untuk mengembangkan aplikasi mobile tumbuhan obat menggunakan Android yang kami berinama MedLeaf. Informasi selengkapnya bisa anda baca di : http://cs.ipb.ac.id/~labci/MedLeaf.htm.

Semoga Bermanfaat.

October 27, 2010

Pengobatan Diare

Sumber : Prof. Dr. Iwan Darmansyah, Sp FK
(http://www.iwandarmansjah.web.id/medical.php?id=52)

Diare aspesifik merupakan penyakit yang sangat sering terjadi di Indonesia, terutama bila  dibandingkan dengan negara maju. Penyebab diantaranya ialah sambal atau makanan lain yang merangsang, virus, toksin kuman stafilokok dalam makanan basi, intoleransi terhadap susu, dsb. Artikel ini tidak mempersoalkan diare yang spesifik yang disebabkan karena ameba, kuman disentri, atau karena radang usus yang memerlukan pengobatan khusus.

Boleh dikata hampir semua orang di Indonesia pernah mengalami diare aspesifik ini, yang biasanya berhenti sendiri tanpa pengobatan. Namun diare aspesifik juga dapat menjadi kronis dan kadang-kadang menimbulkan komplikasi berat bila tidak ditangani dengan benar.

Bila diare hanya beberapa kali sehari dan berhenti dalam 1-2 hari hal ini tidak perlu penanganan khusus. Tetapi bila defekasi sering, sampai 8-15 kali sehari, disertai perut mules, feses cair dan banyak, maka perlu diwaspadai. Bahaya terbesar ialah kehilangan cairan tubuh dan garam, terutama natrium dan kalium, apalagi bila terjadi berhari-hari. Terutama orang tua dan bayi peka sekali dan mudah berakhir dengan dehidrasi dan, tidak jarang, kematian. Hal ini sebenarnya mudah dicegah dan diobati.

Pengobatan dengan oralit merupakan penemuan terbesar jaman ini menurut WHO. Tetapi banyak dokter dan pasien tidak sadar untuk memakai obat sederhana ini dari mulanya. Hal ini agaknya disebabkan karena oralit tidak langsung dirasakan manfaatnya untuk menghentikan diare dan malah dapat menginduksi muntah. Semua ini terjadi karena WHO, UNICEF, dan Departemen Kesehatan tidak memberitahu cara pemakaian oralit yang benar. Bila oralit dicampur 1 sachet dalam segelas (200 cc) air dan diteguk sekaligus maka sering penderita akan muntah dan terasa akan buang air besar lagi. Cara minum oralit ini salah.

Yang benar ialah bahwa larutan oralit harus diteguk sedikit demi sedikit, 2-3 teguk dan berhenti 3 menit untuk memberi kesempatan oralit diserap oleh usus dan menggantikan garam dan cairan yang hilang dalam feses. Prosedur ini harus diulang terus menerus sampai 1 gelas habis. Bila diare masih berlanjut secara profus maka minum oralit harus diteruskan sampai beberapa bungkus/gelas (3-8) sehari. Tindakan ini biasanya akan menghentikan diare dengan cepat dan efisien.

Pengobatan lain biasanya tidak diperlukan. Menghentikan diare secara artifisial dengan obat seperti imodium tidak dianjurkan karena obat ini bekerja seperti morfin atau kodein, yaitu menghentikan peristalsis usus, sambil membiarkan isi usus yang kotor mengamuk didalamnya. Hal ini dapat menimbulkan mules yang luar biasa dan pada bayi atau orang tua dapat menimbulkan kematian.

Pada dasarnya diare merupakan mekanisme tubuh alamiah untuk mengeluarkan isi usus yang “busuk”. Bila ini sudah bersih maka diare akan berhenti sendiri.

Bila hendak ditambah dengan obat yang mengandung garam bismuth (misalnya bismuth salisilat atau karbonat), attapulgit atau kaolin boleh juga asal jangan berlebihan. Garam bismuth juga berguna untuk menghilangkan kembung yang sering menyertai diare. Antibiotika umumnya tidak perlu diberikan karena mubazir dan dapat sering memperpanjang masa diare.

Selain pemakaian obat diet perlu diatur. Hentikanlah sementara minum susu dan santan, makan sayur atau buah terlalu banyak, dan terutama sambal tidak boleh sedikitpun.

Semoga dengan penanganan diare seperti di atas lebih dari separuh kasus diare aspesifik di Indonesia dapat ditangani sendiri oleh masyarakat dengan cara murah dan efektif.

Sumber lain :

1. Obat alternatif :Minuman Pocari Sweat (http://www.facebook.com/topic.php?uid=27451563497&topic=4914)

2. Diare (http://www.qualityhealth.com/health-encyclopedia/multimedia/diarrhea-1)

Tags: ,
September 18, 2010

Mimisan/Epistaksis



Mimisan adalah keluarnya darah dari hidung disebabkan pecahnya pembuluh darah di selaput lendir hidung.

Rongga hidung kita kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian depan, tepatnya pada sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua, terdapat anyaman pembuluh darah yang disebut pleksus Kiesselbach. Pada rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang dari pembuluh darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina.
Jika pembuluh darah tersebut luka atau rusak, darah akan mengalir keluar melalui dua jalan, yaitu lewat depan melalui lubang hidung, dan lewat belakang masuk ke tenggorokan.

Perdarahan hidung ini lazim disebut mimisan. Orang medisnya menamakannya epistaksis.

Mimisan Depan

Jika yang luka adalah pembuluh darah pada rongga hidung bagian depan, maka disebut ‘mimisan depan’ (=epistaksis anterior). Lebih dari 90% mimisan merupakan mimisan jenis ini. Mimisan depan lebih sering mengenai anak-anak, karena pada usia ini selapun lendir dan pembuluh darah hidung belum terlalu kuat.

Mimisan depan biasanya ditandai dengan keluarnya darah lewat lubang hidung, baik melalui satu maupun kedua lubang hidung. Jarang sekali perdarahan keluar lewat belakang menuju ke tenggorokan, kecuali jika korban dalam posisi telentang atau tengadah.

Pada pemeriksaan hidung, dapat dijumpai lokasi sumber pedarahan. Biasanya di sekat hidung, tetapi kadang-kadang juga di dinding samping rongga hidung.

Mimisan depan akibat :

  1. Mengorek-ngorek hidung
  2. Terlalu lama menghirup udara kering, misalnya pada ketinggian atau ruangan berAC
  3. Terlalu lama terpapar sinar matahari
  4. Pilek atau sinusitis
  5. Membuang ingus terlalu kuat

biasanya relatif tidak berbahaya. Perdarahan yang timbul ringan dan dapat berhenti sendiri dalam 3 – 5 menit, walaupun kadang-kadang perlu tindakan seperti memencet dan mengompres hidung dengan air dingin.

Beberapa langkah untuk mengatasi mimisan depan:

  1. Penderita duduk di kursi atau berdiri, kepala ditundukkan sedikit ke depan.
    Pada posisi duduk atau berdiri, hidung yang berdarah lebih tinggi dari jantung. Tindakan ini bermanfaat untuk mengurangi laju perdarahan. Kepala ditundukkan ke depan agar darah mengalir lewat lubang hidung, tidak jatuh ke tenggorokan, yang jika masuk ke lambung menimbulkan mual dan muntah, dan jika masuk ke paru-paru dapat menimbulkan gagal napas dan kematian.
  2. Tekan seluruh cuping hidung, tepat di atas lubang hidung dan dibawah tulang hidung. Pertahankan tindakan ini selama 10 menit. Usahakan jangan berhenti menekan sampai masa 10 menit terlewati. Penderita diminta untuk bernapas lewat mulut.
  3. Beri kompres dingin di daerah sekitar hidung. Kompres dingin membantu mengerutkan pembuluh darah, sehingga perdarahan berkurang.
  4. Setelah mimisan berhenti, tidak boleh mengorek-ngorek hidung dan menghembuskan napas lewat hidung terlalu kuat sediktinya dalam 3 jam.

Jika penanganan pertama di atas tidak berhasil, korban sebaiknya dibawa ke rumah sakit, karena mungkin dibutuhkan pemasangan tampon (kasa yang digulung) ke dalam rongga hidung atau tindakan kauterisasi. Selama dalam perjalanan, penderita sebaiknya tetap duduk dengan posisi tunduk sedikit kedepan.

Mimisan Belakang

Mimisan belakang (=epistaksis posterior) terjadi akibat perlukaan pada pembuluh darah rongga hidung bagian belakang. Mimisan belakang jarang terjadi, tapi relatif lebih berbahaya. Mimisan belakang kebanyakan mengenai orang dewasa, walaupun tidak menutup kemungkinan juga mengenai anak-anak.

Perdarahan pada mimisan belakang biasanya lebih hebat sebab yang mengalami perlukaan adalah pembuluh darah yang cukup besar.

Karena terletak di belakang, darah cenderung jatuh ke tenggorokan kemudian tertelan masuk ke lambung, sehingga menimbulkan mual dan muntah berisi darah. Pada beberapa kasus, darah sama sekali tidak ada yang keluar melalui lubang hidung.

Beberapa penyebab mimisan belakang :

  1. Hipertensi
  2. Demam berdarah
  3. Tumor ganas hidung atau nasofaring
  4. Penyakit darah seperti leukemia, hemofilia, thalasemia dll.
  5. Kekurangan vitamin C dan K.
  6. Dan lain-lain

Perdarahan pada mimisan belakang lebih sulit diatasi. Oleh karena itu, penderita harus segera dibawa ke puskesmas atau RS.

Biasanya petugas medis melakukan pemasangan tampon belakang. Caranya, kateter dimasukkan lewat lubang hidung tembus rongga belakang mulut (faring), kemudian ditarik keluar melalui mulut. Pada ujung yang keluar melalui mulut ini dipasang kasa dan balon. Ujung kateter satunya yang ada di lubang hidung ditarik, maka kasa dan balon ikut tertarik dan menyumbat rongga hidung bagian belakang. Dengan demikian diharapkan perdarahan berhenti.

Jika tindakan ini gagal, petugas medis mungkin akan melakukan kauterisasi. Langkah lain yang mungkin dipertimbangkan adalah operasi untuk mencari pembuluh darah yang menyebabkan perdarahan, kemudian mengikatnya. Tindakan ini dinamakan ligasi.

Catatan:
*Kauterisasi : proses untuk menghentikan perdarahan dengan cara membakar pembuluh darah yang sedang berdarah. Kauterisasi kimia menggunakan bahan kimia, yaitu AgNO3, sedangkan kauterisasi listrik menggunakan arus listrik.

Sumber : http://www.wartamedika.com/2007/07/mimisan-atau-epistaksis.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.