Words are just words and without heart they have no meaning
“Saya XX, mahasiswa ibu. Mau nanya, jam berapa yah ibu bisa menemui saya..”
“Bukan gitu pa caranya….. “
“Kalau laporannya sudah diperiksa, mohon dititip di sekretariat saja bu, nanti saya ambil….”
Itulah beberapa dari kalimat yang pernah saya dengar, baik melalui lisan, sms atau email. Coba bandingkan dengan kalimat dibawah ini:
“Saya XX. mahasiswa Ibu. Mohon informasi bu, jam berapa saya bisa menemui ibu..”
“Begini pa yang saya maksud…”
“Ibu, mohon informasi apakah laporannya sudah bisa saya ambil..”
Kita bisa lihat kalimat itu memiliki makna yang sama bukan..?? Tapi rasanya seperti berbeda yah… hehehe..mungkin itulah yang disebut dengan magic words…
atau ada pepatah yang mengatakah “Words are just words and without heart they have no meaning…”..
Disadari atau tidak apa yang kita ucapkan atau apa yang kita tulis, memiliki pengaruh yang sangat besar sekali terhadap apa yang kita ingin sampaikan…. Boleh jadi apa yang ingin kita sampaikan keorang lain, tidak diterima atau diabaikan hanya karena cara kita menyampaikannya. Padahal pastinya semua orang menginginkan apa yang disampaikannya bisa diterima oleh orang lain…:)
Jadi sebenernya apa siy yang harus kita perhatikan saat kita ingin supaya orang lain mendengarkan atau menerima apa yang kita sampaikan…??. Berdasarkan buku “primbon” komunikasi yang pernah saya baca hehe…, ada beberapa hal katanya yang perlu kita perhatikan pada saat berkomunikasi.
1. Use ‘I’ messages. Pemilihan kata memegang peranan penting dalam komunikasi.Contohnya : “Kamu tidak jelas menerangkannya…”, akan lebih baik jika menggunakankan kalimat “Saya tidak mengerti apa yang kamu jelaskan, mohon dijelaskan lagi.. sama juga dengan kalimat “Ibu menemui saya…” akan lebih baik jika kalimatnya menjadi “Saya menemui Ibu… “
2. Look for compromise. Ketika ada perbedaan pandangan, jangan bersikap “defensive”, tapi sampaikanlah dulu persaamaan pandangan yang ada.
3. Listen Carrefully. Jika orang lain mengkritik kita, maka yang harus dilakukan pertama kali adalah mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Jangan melakukan interupsi. Bersikaplah tenang dan berusaha mencoba untuk mencari apa yang benar dari kritik yang dia berikan.
4. Pada saat berbicara, ulangi lagi beberapa kata penting yang dia sampaikan, untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan baik.
5. Usahakan untuk bersikap “bersahabat” sekalipun dia bikin bete..hehee…
Mohon maaf bila kurang berkenan…..
August 16, 2009 at 5:26 am
Hmm, yang nomor 5 yang paling sulit bu…..
saya lebih cenderung “menghindari” kontak dengan orang-orang yang bikin bete…..
Nice note..
August 16, 2009 at 12:19 pm
terima kasih pa..
August 16, 2009 at 7:47 am
Wah ibu pernah kuliah komunikasi juga ya? Ajarkan juga dong bu yng lain selain kuliah ibu yg di STTIBI gmn bu? Mw khan bu ibu ajarin q ilmu2 ibu lainnya? Khan jk q sukses ibu juga mungkin bisa bangga cp dulu dosennya ya tdk bu?
August 16, 2009 at 11:26 am
insha allah pa.. terima kasih..
August 16, 2009 at 9:18 am
jiah tawi duluan yang komen jadi gak pertamax lagi nih…
prof tawi kayaknya ente harus bikin kamus bahasa tawi deh biar semua pada ngerti..he3x biar gak distorsi kebahasaaan dan kesastraan…
August 16, 2009 at 11:18 am
Assalamu’alaikum……saya sangat setuju dengan apa yg ditulis diatas bu, karena bahasa merupakan cerminan diri kita, kadang kita tidak menyadari betapa pentingnya bahasa (termasuk diri saya kadang masih mengeluarkan bahasa yag bersifat fulgar dan sedikit seronok tapi tergantung siapa lawan bicara saya…he..he) terima kasih akan masukannya bu semoga ini bagian cermin kita semua (apa lagi calon S2) jangan pernah berbahasa yang kurang pas. matur nuwun, hatur nuhun, terima kasih, thank u. Wassalam.
August 16, 2009 at 11:58 am
Terima kasih pa..:)
Saya juga setuju dengan bapak.. komunikasinya sangat tergantung dengan lawan bicara.. tapi disini bukan berarti krn saya dosen lohh hehe.. pa lagi saya lebih muda dari temen2 di sana…
Saya juga sesekali mengeluarkan kata “gaul” ke teman senior saya, tapi itu setelah saya tahu persis siapa lawan bicara kita, sehingga insha allah bisa saling mengerti satu sama lain.. Tapi kalau belum banyak mengenal, salah2 nanti kita dikira macem2 heheh..
August 16, 2009 at 11:51 am
setuju….artinya kita harus dapat menempatkan posisi kita, pada siapa kita bicara dan pada siapa kita berhadapan. Kita harus fleksibel dalam berbahasa serta dapat membaca karakter bahasanya sendiri. Tapi kalo yang kita hadapi tidak dapat mengerti….sebaiknya..yang waras ngalah. peace
August 16, 2009 at 7:30 pm
benar sekali pa..
makanya ada point 5 : 5. Usahakan untuk bersikap “bersahabat” sekalipun dia bikin bete..hehee…
thanks pa..
August 16, 2009 at 1:51 pm
Terima kasih bu, atas informasinya yang tidak ada di materi DBMS hehehe, menjadi acuan bagaimana kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita.
August 16, 2009 at 7:31 pm
Sama-sama ibu..
Saya juga senang sekali bisa punya banyak teman dari STTIBI…
August 16, 2009 at 7:37 pm
yaps…kata menunjukan arti dan makna tergantung dimana kita tinggal. memiliki arti ketika sudah dipahami, memiliki makna ketika berfilsafat. kata memiliki keindahan jika orang tersebut menghargai bahasanya, menjadi hancur ketika orang tersebut merusak kaidah kata.
semakin lama usia dan pengalaman maka kata akan memiliki kedalaman arti, dan kata tersebut memiliki kesan agung dan indah maknanya, siapapun akan dikagumi dan dihormati akibat kata tersebut, pandai memilih kata akan meningkatkan derajat citra diri seolah-olah berbicara dengan seorang bangsawan. bahkan seorang wanita pun akan terhibur oleh kata bahkan jatuh hati karena keindahan kata. komunikasi dengan kata akan menunjukan kualitas level kepribadian, semakin tinggi level kata semakin menunjukan kepribadian unggul dan high qualified.
ingatkah lirik mengenai kata :
Hanya satu kata
Tiada tempat terucap
Walau kita berjumpa
Dan saling menyapa
Hanya satu kata
Kembali karam di hati
Walau sering bicara
Sampai lupa waktu
Reff#
Dimana kuharus mencari
Sebuah kata yang hilang
Saat denganmu
Bukan banyak kata
Ketika ingin bicara
Tentang bara di dada
cukup satu kata
Jangan kau ragu dan membisu
Ucapkan saja isi hatimu
Lewat satu kata
Ketika ingin bicara
Tentang bara di dada
Cukup satu kata
Back to Reff#
August 16, 2009 at 8:07 pm
Setuju sekali saya pa..
Terima kasih.
August 19, 2009 at 8:50 am
Wooou… apa yang ibu tulis benar, bahwa penempatan kata-kata dalam suatu kalimat dengan lawan bicara sangat penting,, akan menimbulkan arti atau makna yang berbeda ya bu.. he…he..pa lagi ya yang kita ajak ngomong orang ngebetein….bawaannya ingin cepat-sepat menyudahinyaa…he..he
August 17, 2009 at 11:06 am
Saya tertarik dengan pepatah kata ini :
Words are just words and without heart they have no meaning…”..
perkenankan saya menafsirkan pepatah tersebut :
Jika hati kita dalam keadaan baik akan menghasilkan kata – kata yang sungguh baik bagi lawan bicaranya, mungkin hal ini karena bahasa hati tersebut adalah bahasa Tuhan Allah SWT, sehingga lawan bicaranya akan memiliki sinkron yang sama bahkan menguatkan bagi si pembicaranya.
Jika hati kita dalam keadaan tidak baik akan menghasilkan kata-kata yang sungguh tidak mengenakan bagi lawan bicaranya, mungkin karena hati kita sedang di rasuki oleh nafsu dan godaan syetan yang terkutuk, sehingga lawan bicaranya akan melemahkan sipembicaranya bahkan membawa nafsu yang amat besar/dendam lagi bagi si pembicaranya.
demikian yang saya bisa tafsirkan…, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Terima Kasih.
October 22, 2009 at 9:38 am
wahh, nice note neh
ternyata mba yenni jago nulis ya,
thanks buat ilmunya mba